Kali ini gue pengen
menceritakan penyakit yang saat ini sedang gue derita. Sebenarnya gue juga baru
tau tentang penyakit ini. Jadi gue akan menceritakannya dari awal.
Sekitar bulan Juli,
gue merasakan adanya dua benjolan di bawah telinga kanan dan leher depan bawah
tulang pipi. Gue juga menemukannya secara gak sengaja ketika memegang leher,
karena awalnya gue gak merasakan apa-apa. Setelah mengetahui hal tersebut, gue belum
bilang siapa-siapa tentang benjolan ini karena menurut gue mungkin nanti hilang
dan juga gue mengira kalau ini adalah amandel.
Masuk bulan ke empat benjolan
ini, gue mulai berani untuk periksa ke dokter. Pada saat itu gue ingin mencoba
menggunakan bpjs, karena secara pribadi belum pernah coba kalau sedang sakit.
Akhirnya gue periksa ke klinik dekat rumah yang dirujukan oleh bpjs. Disana gue
diperiksa sebentar lalu dokter tersebut memberikan surat rujukan untuk ke RSUD.
TINDAKAN DI RSUD
Setibanya di RSUD gue
harus menunggu dan mengikuti prosedur pendaftarannya. Lagi-lagi ini pertama
kalinya gue menggunakan jasa kesehatan di daerah gue tinggal, Tangerang Selatan.
Akhirnya tiba antrian gue dipanggil untuk diperiksa. Setelah dokter tersebut
memeriksa benjolan gue, beliau langsung bilang kalau kelenjar (benjolan) ini
harus diambil atau dilakukan operasi kecil. Gue langsung kaget mendengar
pernyataan dokter poli bedah itu, karena sejujurnya gue gak tau apa penyakit
yang gue derita. Setiap gue tanya perihal akibat atau jenis benjolan ini, berkali
kali dokter itu menjelaskan kalau beliau harus mengambil kelenjar tersebut lalu
di patologi agar bisa di identifikasi penyakitnya. Saat itu gue gak bisa terima
jika ada bagian dari tubuh gue di operasi tanpa tau apa yang sebenarnya gue
derita. Gue butuh penjelasan yang sangat jelas kalau akan dilakukan segala tindakan.
Untungnya gue ditemani bokap yang meminta untuk biopsi terlebih dahulu dan gue
juga meminta obat sebagai tindakan pertama, tapi dokter tersebut tetap memberitahu
dan menekankan bahwa kalau sudah di poli bedah harus dilakukan operasi. Setelah
bernegosiasi, akhirnya gue menolak untuk operasi itu dan meminta rujukan untuk
rontgen saja. Pada saat itu gue tidak rontgen dan diganti 2 minggu dari hari
itu, mungkin karena antrian yang rame banget. Setelah itu, gue memutuskan untuk
tidak melanjutkan pemeriksaan mengikuti jalur bpjs.
MENCARI JALAN LAIN
Satu minggu setelah
kejadian bpjs, gue mencoba untuk menemui tante gue yang kebetulan berprofesi
sebagai dokter. Walaupun bukan dokter spesialis penyakit dalam seenggaknya gue
ada informasi tentang penyakit yang gue derita. Menurut tante gue, ini adalah
kelenjar getah bening. Dan dia membesar karena adanya infeksi virus/bakteri.
Tante gue memberikan resep obat yang harus diminum selama 5 hari, jika mengecil
dalam 3 hari gue harus stop untuk minum. Jika belum juga mengempis selama 5
hari, tante gue menyarankan untuk rontgen thorax.
Ternyata setelah 5
hari, kelenjar tersebut mulai mengecil tapi tidak hilang sepenuhnya. Sehabis
obat gue tidak melakukan rontgen dan mulai lupa untuk meneruskan pengobatan. Setelah
beberapa hari dari lepas obat-obatan tersebut, gue gak sengaja bertemu temen
nyokap dari medan yang berprofesi dokter internis (spesialis penyakit dalam). Gue
menyempatkan untuk diskusi tentang penyakit gue dan beliau menyarankan gue
untuk biopsi agar tau indikasi kelenjar gue ini. Beliau memberikan resep obat
untuk diminum sebelum melakukan tindakan biopsi. Biopsi harus melalui surat
rujukan dari dokter, dan pada saat itu gue bingung bagaimana caranya. Hampir
gue nekat pergi ke medan untuk biopsi dan periksa lanjutan, karena tidak ada
lagi dokter internis di Jakarta yang gue kenal.
DIAGNOSIS TB KELENJAR
Setelah mencari cari akhirnya
nyokap ingat kalau kenal dokter internis yang pernah menangani kakek gue.
Jadilah gue perika ke dokter santi yang praktek di RS Prikasih Fatmawati. Pada
hari pertama pemeriksaan, gue langsung diberikan surat rujukan untuk melakukan
rontgen thorax, cek darah dan biopsi. Rontgen thorax dan ambil darah dilakukan
di RS Prikasih sedangkan untuk Biopsi di RS Fatmawati.
Sedikit menceritakan
pengalaman biopsi. Jadi, biopsi dilakukan dengan menusukan jarum kecil ke
kelenjar untuk mendapatkan cairan agar bisa di observasi untuk mengidentifikasi
kelenjar tersebut. Karena kelenjar gue lumayan keras, cairan yang keluar agak
lama dan sangat nyeri sampai ke kepala.
Setelah mendapatkan
semua laporan dari hasil lab gue kembali ke dokter santi untuk mentahui diagnosa
penyakit ini. Dokter Santi melihat bahwa gue teridentifikasi mengalami penyakit
TB Kelenjar. Untungnya jika dilihat dari rontgen thorax gue tidak mengidap TBC
karena gue bisa saja terkena penyakit tersebut. Jadi TB kelenjar ini adalah masuknya
virus/bakteri yang menyerang ke dalam tubuh dan untungnya lagi imunitas pada
kelenjar getah bening/kelenjar lim gue lumayan tinggi sehingga tidak menyerang
organ tubuh yang riskan jika terkena bakteri tersebut, salah satunya paru-paru.
Dokter Santi membuat resep obat untuk 1 minggu dulu untuk melihat efek dari obat
tersebut. Satu lagi yang diharuskan adalah gue harus makan banyak dan minum
susu 1 hari dua kali, karena pada dasarnya gue orangnya malas makan. Gue
diberikan 8 macam obat untuk diminum, satu obat yang gak boleh putus adalah
Rifampicin obat untuk membunuh bakteri TB.
Efek obat-obat
tersebut memberikan efek mengecil untuk kelenjar gue dan seminggu kemudian gue
balik lagi untuk control. Sayangnya dokter santi sedang ambil cuti natal sampai
januari dan gue memutuskan untuk control ke dokter yang ada di hari itu. Karena
gue takut ada efek selanjutnya jika gue putus minum obat. Akhirnya gue ke
dokter yang berbeda dan diberikan obat Rifastar untuk diminum satu minggu ke
depan. Untuk pertama kalinya gue minum obat sebesar Rifastar. Obat tersebut
juga harus diminum 3 tablet untuk sekali minum. Cukup berat untuk gue yang
tidak suka minum obat.
Setelah satu minggu gue
balik lagi ke dokter santi yang sudah selesai cuti. Beliau memberikan tindakan
injeksi untuk membantu penyembuhan dan beliau menyarankan untuk satu bulan
sekali melakukan injeksi. Tindakan tersebut dilakukan agar cepat proses
penyembuhannya.
SEKARANG?
Saat ini gue masih
mengonsumsi obat yang diberikan dokter untuk satu bulan ke depan dan
nantinya akan dilakukan injeksi lagi. Baru tiga hari dari kontrol hari senin kemarin, efeknya lumayan membuat kelenjar gue semakin mengecil dari sebelumnya.
Sudah masuk bulan
kedua proses penyembuhan penyakit TB Kelenjar yang gue derita ini. Gue sangat
berharap agar penyakit ini sembuh total dengan cepat, karena badan gue kurang
kuat untuk menahan efek obat yang terjadi.
Jadi, saran gue buat yang ngerasa ada benjolan di leher jangan anggap biasa aja, harus cepet periksa ke dokter karena bisa jadi itu kelenjar ganas walaupun kamu gak ngerasa sakit atau demam. Dan satu lagi, kalau bisa jangan langsung tindakan operasi, kamu bisa ke dokter internis dulu minta penjelasan dan coba ajukan untuk biopsi sebagai tindakan pertama.
Perhatikan juga pola makan dan pola tidur/istirahat. Karena bakteri TBC itu dapat muncul dari makanan yang kurang bernutrisi/ kurang makan serta kurangnya istirahat.
Perhatikan juga pola makan dan pola tidur/istirahat. Karena bakteri TBC itu dapat muncul dari makanan yang kurang bernutrisi/ kurang makan serta kurangnya istirahat.